Potensi Megathrust di Indonesia, Apakah Kita Siap Hadapi Bencana?
- Megathrust merupakan zona pertemuan dua lempeng tektonik, ketika satu lempeng menghunjam ke bawah lempeng lainnya. Mega berarti besar dan thrust berarti patahan naik. Zona ini berpotensi menghasilkan gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 8 atau lebih.
- Indonesia memiliki sejumlah zona megathrust yang tersebar di sepanjang wilayah barat Sumatera, selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga wilayah Sulawesi dan Halmahera. Gempa Aceh 2004 dan Nias 2005 adalah contoh bencana dari zona semacam ini.
- Soal waktu, lokasi, dan kekuatan gempa berikutnya, ilmu pengetahuan belum bisa menjawab. Namun wilayah rawan bisa dipetakan. Pemahaman pengetahuan masyarakat berkaitan dengan megathrust perlu ditingkatkan.
- Di Pulau Simeulue, Aceh, berkat pemahaman yang mendalam terhadap tanda-tanda alam seperti gempa bumi dan surutnya air laut, masyarakat mampu merespons dengan cepat untuk mencari tempat lebih tinggi. Praktik budaya yang terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari ini terbukti sangat efektif dalam meningkatkan ketahanan warga, yang secara nyata menyelamatkan banyak nyawa saat bencana besar terjadi pada tahun 2004.
Lebih dari dua dekade, kata “megathrust” kembali memenuhi linimasa dan memicu kepanikan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa posisi geografis Indonesia yang berada di wilayah tektonik aktif dan dikelilingi sejumlah zona subduksi menjadikannya sangat berpotensi menjadi sumber gempa kuat dari 14 segmen zona megathrust.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa bermagnitudo besar di 14 segmen zona megathrust Indonesia. Kawasannya membentang luas, meliputi segmen Aceh-Andaman, Nias-Simeulue, Batu, Mentawai-Siberut, Mentawai-Pagai, Enggano, Jawa, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumba, Sulawesi Utara, Palung Cotabato, serta Filipina Selatan dan Tengah.
Melalui rilis di akun resmi lembaga tersebut disebutkan bahwa peta sebaran patahan aktif hasil pemutakhiran data bersama Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN), dipublikasikan bukan sebagai prediksi waktu kepastian bencana, melainkan sebagai panduan strategis berbasis data ilmiah untuk memperkuat sistem mitigasi evakuasi mandiri serta tata ruang wilayah pesisir sejak dini.
Apa Itu megathrust?
Supartoyo, Penyelidik Bumi Ahli Utama Badan Geologi, Kementerian ESDM, menjelaskan bahwa megathrust merupakan zona pertemuan dua lempeng tektonik, ketika satu lempeng menghunjam ke bawah lempeng lainnya. Mega berarti besar dan thrust berarti patahan naik.
Zona ini berpotensi menghasilkan gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 8 atau lebih. Indonesia memiliki sejumlah zona megathrust yang tersebar di sepanjang wilayah barat Sumatera, selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga wilayah Sulawesi dan Halmahera. Gempa Aceh 2004 dan Nias 2005 adalah contoh bencana dari zona semacam ini.
Meski waktu, lokasi, dan kekuatan gempa belum dapat diprediksi secara pasti, pemetaan kawasan rawan bencana menjadi langkah penting untuk memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat.
“Soal waktu, lokasi, dan kekuatan gempa berikutnya, ilmu pengetahuan belum bisa menjawab. Namun wilayah rawan bisa dipetakan. Pemahaman pengetahuan masyarakat berkaitan dengan megathrust itu yang perlu ditingkatkan,” kata Supartoyo.
Studi berjudul “Raised Potential Earthquake and Tsunami Hazards at the North Sulawesi Subduction Zone after a Flurry of Major Seismicity” di jurnal Marine and Petroleum Geology (2023), menyebutkan bahwa di utara Sulawesi, Laut Sulawesi menyimpan zona tunjaman yang disebut North Sulawesi Subduction Zone. Sejak 1990-an, zona ini diguncang serangkaian gempa besar bermagnitudo di atas 7. Gempa Sulawesi Mw 7,5 pada 2018 memecah bagian baratnya dan memicu tsunami.
Tim peneliti menghitung bagaimana gempa-gempa itu mengubah tegangan di sekitarnya. Gempa-gempa di bagian yang lebih dalam menambah tekanan lebih dari 10 kilopascal pada bagian dangkal megathrust (kurang dari 10 kilometer). Bagian dangkal inilah yang paling berpotensi memicu tsunami besar.
“Potensi bahaya gempa dan tsunami meningkat besar akibat gempa-gempa besar di bagian yang lebih dalam,” tulis Tingting Zheng dan tim dalam studi tersebut.
Dari ratusan simulasi gempa hipotetis, tinggi tsunami di pesisir Sulawesi Utara bervariasi dari nyaris nol hingga 43 meter. Struktur dasar laut dan bentuk batimetri di sana juga berpotensi memperbesar gelombang. Angka 43 meter adalah batas atas skenario terburuk, bukan perkiraan kejadian berikutnya.
Wilayah timur Indonesia kurang penelitian
Ignatius Pranantyo, Mohammad Heidarzadeh, dan Phil R. Cummins dalam riset mereka berjudul “Complex Tsunami Hazards in Eastern Indonesia from Seismic and Non-Seismic Sources” di jurnal Geoscience Letters (2021), menyebut bahwa wilayah Indonesia bagian timur dikenal sebagai kawasan paling rawan bencana tsunami akibat kombinasi berbagai pemicu seismik maupun non-seismik. Akan tetapi, mereka menegaskan data dan analisis kawasan ini masih terbatas.
Studi ini menegaskan bahwa bahaya tsunami di kawasan Indonesia Timur (termasuk wilayah Sulawesi) sangat kompleks karena tidak hanya dipicu gempa bumi tektonik, melainkan juga sumber non-seismik seperti longsoran bawah laut (submarine mass failure) di Selat Makassar dan runtuhan lereng gunung api (flank collapse) seperti Gunung Ruang di Kepulauan Siau, Sulawesi Utara.
“Kawasan ini memiliki ancaman tsunami kompleks dan multi-sumber (complex tsunami hazards), karena terdapat potensi bencana dari berbagai jenis sumber yang dapat saling bertumpuk di kawasan geografis yang sama,” tulis para peneliti.
Untuk mengatasi minimnya data, studi ilmiah ini melakukan pemodelan deterministik guna menganalisis ancaman gelombang ekstrem dari berbagai sumber berbeda. Penelitian ini meninjau skenario gempa bumi tektonik di zona patahan Flores yang menghasilkan ketinggian gelombang signifikan, mirip peristiwa bersejarah di masa lalu.
Selain itu, simulasi juga dilakukan terhadap potensi longsoran bawah laut di Selat Makassar serta runtuhnya lereng akibat aktivitas vulkanik Gunung Ruang pada tahun 1871. Melalui pendekatan berbasis data historis dan modern ini, para peneliti berhasil mereplikasi tingkat bahaya serta tinggi gelombang secara akurat untuk meningkatkan pemahaman mitigasi bencana.
Studi lainnya yang dilakukan oleh Raquel P. Felix dan kolega berjudul “Tsunami Hazard in Lombok and Bali, Indonesia, Due to the Flores Back-Arc Thrust”, Natural Hazards and Earth System Sciences (2022), menjelaskan sebagian besar pemodelan dan riset bahaya tsunami di Indonesia secara historis terpusat pada segmen Megathrust Sunda. Segmen ini membentang di sepanjang Palung Jawa, sekitar 250 km di sebelah selatan Pulau Bali dan Lombok.
Bencana tsunami raksasa berskala regional, seperti Tsunami Samudra Hindia tahun 2004, mendorong perhatian para peneliti nasional dan internasional untuk fokus pada zona subduksi busur muka (fore-arc) tersebut. Akibatnya, sistem Flores back-arc thrust, khususnya segmen barat yang terletak di bawah Selat Lombok; menerima porsi perhatian penelitian yang sangat minim, meskipun posisinya yang dekat dengan daratan berpotensi menimbulkan gelombang tsunami lokal secara mendadak.
Faktor lain yang menyebabkan kawasan ini kurang diteliti (poorly studied) adalah singkatnya jendela pengamatan dari catatan historis dan seismik jika dibandingkan dengan siklus keberulangan gempa bumi. Catatan sejarah memang mencatat beberapa gempa pemicu tsunami di wilayah Bali dan Lombok sejak 1800, seperti peristiwa 1815, 1857, dan 1917, namun dokumentasi ilmiah mengenai karakter tsunaminya sangat terbatas.
Hingga saat ini belum ada studi paleotsunami (endapan tsunami purba) yang berhasil mengidentifikasi jejak aktivitas Flores Thrust; satu-satunya studi endapan tsunami purba di Bali justru terbukti berasal dari aktivitas Megathrust Sunda.
Kearifan lokal tentang gempa
Di Pulau Simeulue, Aceh, anak-anak tumbuh dengan nina bobo yang tak biasa. Sang nenek menyanyikan urutan kejadian: bumi bergoyang, laut surut, lalu ombak raksasa datang, dan satu pesan: berlarilah ke tempat tinggi. Tradisi tutur ini dipakai orang Simeulue sebagai alat belajar lintas generasi sejak 1907. Ketika tsunami 2004 datang, hanya tujuh warga Simeulue yang meninggal.
Pengetahuan masyarakat di Simeulue ini dituangkan dalam studi Ramli dkk, berjudul “The Role of Oral Traditions in Internalizing Smong Wisdom: Perspectives from the Simeulue Community”, Indonesian Journal of Applied Linguistics (2024).
Penelitian ini mengkaji bagaimana masyarakat Simeulue berhasil melestarikan dan menginternalisasikan kearifan lokal tentang mitigasi bencana tsunami yang disebut smong. Studi ini mengeksplorasi tiga tradisi lisan utama yang berfungsi sebagai media pendidikan dan peringatan dini, yaitu mananga-nanga (lagu pengantar tidur untuk anak-anak), manafi-nafi (cerita rakyat), dan nandong (seni suara dan musik komunal). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyampaian pesan secara turun-temurun ini telah membentuk memori kolektif yang kuat di kalangan warga dari berbagai kelompok usia.
Berkat pemahaman mendalam terhadap tanda-tanda alam seperti gempa bumi dan surutnya air laut, masyarakat mampu merespons dengan cepat untuk mencari tempat lebih tinggi. Praktik budaya yang terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari ini terbukti sangat efektif meningkatkan ketahanan warga, yang secara nyata menyelamatkan banyak nyawa saat bencana besar terjadi pada 2004 lalu.
“Menanamkan nilai-nilai kearifan lokal sejak usia dini menumbuhkan memori kolektif,” tulis Ramli dkk.
Badan Geologi menyebut peta kawasan rawan bencana gempa dan tsunami sebagai dasar utama mitigasi dan penataan ruang. Artinya, keputusan soal permukiman pesisir dan tata ruang laut darat perlu membaca peta itu, bukan sekadar mengikuti kabar viral.
Bagi warga pesisir, pesan paling sederhana datang dari dua tradisi tadi: gempa kuat atau lama, laut surut mendadak, lalu bergerak ke tempat tinggi tanpa menunggu. Megathrust memang tak bisa diramal, tapi kesiapan bisa diwariskan seperti nina bobo yang dilakukan masyarakat Simeulue.
Referensi:
Felix, R. P., Hubbard, J. A., Bradley, K. E., Lythgoe, K. H., Li, L., & Switzer, A. D. (2022). Tsunami hazard in Lombok and Bali, Indonesia, due to the Flores back-arc thrust. Natural Hazards and Earth System Sciences, 22(5), 1665–1682. https://doi.org/10.5194/nhess-22-1665-2022
Pranantyo, I. R., Heidarzadeh, M., & Cummins, P. R. (2021). Complex tsunami hazards in eastern Indonesia from seismic and non-seismic sources: Deterministic modelling based on historical and modern data. Geoscience Letters, 8, Article 20. https://doi.org/10.1186/s40562-021-00190-y
Ramli, R., Gadeng, A. N., Azis, D., Yusuf, Y. Q., & Razali, R. (2024). The role of oral traditions in internalizing smong wisdom: Perspectives from the Simeulue community. Indonesian Journal of Applied Linguistics, 14(2), 229–239. https://doi.org/10.17509/ijal.v14i2.74903
Zheng, T., Qiu, Q., Lin, J., & Yang, X. (2023). Raised potential earthquake and tsunami hazards at the North Sulawesi subduction zone after a flurry of major seismicity. Marine and Petroleum Geology, 148, Article 106024. https://doi.org/10.1016/j.marpetgeo.2022.106024
*****
How it works
Once you click Generate, Ollama reads this article and crafts 5 comprehension questions. Your answers are graded against the article content — general knowledge won't be enough. Score 70+ to count toward your certificate.
Questions are cached — you'll always get the same 5 for this article.